Oportunisme dan Seni dari yang Mungkin

Tulisan ini diterjemahkan dari Rosa Luxemburg, “Opportunism and the Art of the Possible” yang diterbitkan di Sächsische Arbeiterzeitung pada September 1898. Agak sulit mencari konteks persis dari artikel ini. Tetapi, dari buku Stanley Pierson, Marxist Intellectuals and the Working-Class Mentality in Germany, 1887–1912, kita bisa mengetahui keberadaan seorang aktivis Partai Sosial-Demokrasi Jerman (SPD) yang bernama Wolfgang Heine. Pada kampanye elektoralnya di musim semi 1898, Heine mengejutkan sejumlah aktivis Sosial-Demokrat Jerman karena mengusulkan dukungan partai terhadap anggaran militer pemerintah sebagai imbalan untuk konsesi di ranah hak-hak sipil. Kita bisa lihat, tema ini diangkat oleh Rosa dalam tulisannya di bawah ini.

Heine, dalam penggambaran Stanley, memang seorang aktivis yang pragmatis. Dalam kontroversi revisionisme Bernstein, misalnya, ia menyatakan bahwa perselisihan teoritik tidak memiliki banyak signifikansi praktis. Karakter politik praktis yang khas, menurutnya, tidak banyak hubungannya dengan teori. Ia menuduh mereka yang mendesak agar keanggotaan partai mensyaratkan penerimaan ajaran tertentu sebagai dogmatik dan memiliki arogansi akademik. Bisa dibilang, Heine adalah tipe aktivis yang sangat praktis dan tidak begitu peduli dengan ideologi dan teori.

Sebaliknya, Rosa justru menekankan sangat pentingnya keselarasan aktivitas praktis dengan tujuan akhir sosialisme. “Pertanyaan mendasar dari gerakan sosialis selalu adalah bagaimana menyelaraskan aktivitas praktisnya yang langsung dengan tujuan akhirnya,” ungkap Rosa dalam tulisan ini. Bagi Rosa, oportunisme bukan hanya masalah moral, tetapi juga bisa mengakibatkan kekalahan perjuangan kelas pekerja, kendati menghasilkan “keuntungan sesaat”. Sebaliknya, berpegang teguh pada prinsip bisa mendatangkan keberhasilan.

Ia menganggap kemampuan SPD “menyelaraskan tujuan akhirnya yang revolusioner dengan aktivitas hariannya yang praktis” sebagai faktor keberhasilan SPD “menarik massa luas ke dalam perjuangan.” “Persis karena kita tidak bergeser sedikit pun dari posisi kita, kita memaksa pemerintah dan partai-partai borjuis untuk menyerahkan kepada kita beberapa keberhasilan langsung yang dapat diperoleh,” kata Rosa. Sebuah partai sosialis yang bersikap tegas akan membuat partai itu bukan hanya “ditakuti dan dihormati oleh musuh,” tetapi juga “dipercaya dan didukung oleh rakyat.”

Terjemahan ini dibuat dengan pertimbangan bahwa problem yang sama dengan yang dihadapi oleh Rosa sepertinya juga ada, bahkan mungkin marak, di gerakan kiri Indonesia. Kita bisa lihat dari cukup maraknya retorika bahwa suatu tindakan adalah taktik, tapi tidak jelas apa kontribusi tindakan tersebut pada tujuan jangka panjang atau strategisnya. Taktik tanpa strategi bisa jadi merupakan perwujudan dari oportunisme yang memisahkan tindakan praktis dari tujuan akhir perjuangan kelas pekerja. Harapan saya, terjemahan ini bisa menjadi salah satu referensi untuk memahami penyakit oportunisme sehingga kita bisa mengatasinya. Semoga bermanfaat!


Kawan Heine, sebagaimana banyak diketahui, telah menulis sebuah pamflet untuk konferensi partai yang berjudul Memilih atau Tidak Memilih? Di dalamnya, ia mendukung partisipasi kita dalam pemilihan Landtag Prussia. Bukan topik utama pamfletnya yang mendorong kami membuat beberapa catatan penting, melainkan dua istilah yang ia gunakan dalam alur argumentasinya, yang kami tanggapi dengan kepekaan khusus mengingat peristiwa-peristiwa yang belakangan ini terjadi di dalam partai dan telah diketahui secara luas. Kedua istilah itu adalah: seni dari yang mungkin dan oportunisme. Heine beranggapan bahwa penolakan partai terhadap kecenderungan ini didasarkan sepenuhnya pada kesalahpahaman akan makna linguistik sejati dari istilah asing ini. Ah! Kawan Heine, sama seperti Faust, telah mempelajari ilmu hukum dengan ketekunan tinggi, tetapi sayangnya, tidak seperti Faust, tidak banyak lagi selain itu. Dan dengan semangat pemikiran hukum yang sejati, ia berkata kepada dirinya sendiri, Pada mulanya adalah kata. Jika kita ingin mengetahui apakah seni dari yang mungkin dan oportunisme berbahaya atau berguna bagi Sosial-Demokrasi, kita hanya perlu membuka kamus istilah asing dan pertanyaan itu akan terjawab dalam lima menit. Karena kamus istilah asing memberi tahu kita bahwa seni dari yang mungkin adalah ‘sebuah kebijakan yang berusaha mencapai apa yang mungkin dalam kondisi yang ada.’ Heine kemudian menyatakan, ‘Sungguh, saya bertanya kepada semua orang yang rasional, apakah sebuah kebijakan harus berupaya mencapai apa yang mustahil dalam kondisi yang ada?’ Ya, kami sebagai orang yang rasional menjawab, jika persoalan politik dan taktik dapat diselesaikan semudah itu, maka para penyusun kamuslah yang akan menjadi negarawan yang paling bijak, dan alih-alih menyampaikan pidato-pidato Sosial-Demokrasi, kita harus mulai menyelenggarakan kuliah-kuliah umum tentang linguistik.

Tentu saja kebijakan kita harus dan hanya bisa berupaya mencapai apa yang mungkin dalam kondisi yang ada. Tetapi hal ini tidak menjelaskan bagaimana, dengan cara apa, kita harus berupaya mencapai apa yang mungkin. Namun, inilah poin sangat pentingnya.

Pertanyaan mendasar dari gerakan sosialis selalu adalah bagaimana menyelaraskan aktivitas praktisnya yang langsung dengan tujuan akhirnya. Berbagai ‘mazhab’ dan kecenderungan sosialisme dibedakan menurut berbagai solusi mereka atas persoalan ini. Dan Sosial-Demokrasi adalah partai sosialis pertama yang telah memahami bagaimana menyelaraskan tujuan akhirnya yang revolusioner dengan aktivitas hariannya yang praktis, dan dengan cara ini ia telah mampu menarik massa luas ke dalam perjuangan. Lalu kenapa solusi ini secara khusus selaras? Jawabannya secara singkat dan umum, karena perjuangan praktisnya dibentuk sesuai dengan prinsip-prinsip umum program partai. Ini kita semua hafal di luar kepala; jika ada yang mempertanyakan kita, jawaban kita selalu secerdas biasanya. Sekarang kita percaya bahwa, terlepas dari sifat umumnya, ajaran ini merupakan panduan yang sangat jelas bagi aktivitas kita. Mari kita ilustrasikan secara singkat dengan dua persoalan aktual dalam kehidupan partai—yaitu militerisme dan kebijakan bea cukai.

Secara prinsip—sebagaimana setiap orang yang akrab dengan program kita mengetahuinya—kita menentang segala bentuk militerisme dan tarif proteksionis. Apakah dengan demikian perwakilan kita di Reichstag harus menentang segala perdebatan tentang rancangan undang-undang mengenai persoalan ini dengan penolakan yang singkat dan kasar? Sama sekali tidak, karena sikap itu hanya cocok untuk sebuah sekte kecil dan bukan bagi partai massa yang besar. Perwakilan kita mesti menyelidiki setiap rancangan undang-undang; mereka mesti mempertimbangkan argumen-argumen yang ada, dan mereka harus menilai serta berdebat atas dasar hubungan konkret yang ada, atas dasar situasi ekonomi dan politik yang ada, dan bukan atas dasar prinsip yang abstrak dan tak bernyawa. Meskipun demikian, hasilnya harus dan akan berupa—jika kita menilai dengan benar hubungan yang ada dan kepentingan rakyat—penolakan. Solusi kita adalah: tidak seorang pun dan tidak sepeser pun untuk sistem ini! Tetapi, dalam tatanan sosial saat ini, tidak akan ada sistem yang bukan sistem ini sendiri. Setiap kali tarif dinaikkan, kita akan mengatakan bahwa kita tidak melihat alasan untuk menyetujui tarif tersebut dalam situasi saat ini, tetapi bagi kita, tidak akan ada situasi di mana kita bisa mengambil posisi yang berbeda. Hanya dengan cara inilah perjuangan praktis kita bisa menjadi apa yang seharusnya: perwujudan prinsip-prinsip dasar kita dalam proses kehidupan sosial, dan penjelmaan prinsip-prinsip umum kita dalam tindakan praktis sehari-hari.

Dan hanya dalam kondisi inilah kita bertarung dengan satu-satunya cara yang diperbolehkan untuk apa yang ‘mungkin’ pada waktu apa pun. Sekarang, jika seseorang mengatakan bahwa kita harus menawarkan pertukaran—persetujuan kita terhadap undang-undang militeristik dan tarif sebagai imbalan atas konsesi politik atau reformasi sosial—maka orang itu sedang mengorbankan prinsip-prinsip dasar perjuangan kelas untuk keuntungan sesaat, dan tindakannya didasarkan pada oportunisme. Sebagai catatan, oportunisme adalah sebuah permainan politik yang bisa kalah dalam dua hal: bukan hanya prinsip-prinsip dasar, tetapi keberhasilan praktis juga bisa dikorbankan. Anggapan bahwa seseorang bisa memperoleh keberhasilan sebanyak mungkin dengan membuat konsesi, bersandar pada kesalahan total. Di sini, sama seperti dalam semua persoalan besar lainnya, orang yang paling lihai bukanlah yang paling cerdas. Bismarck pernah berkata kepada sebuah partai oposisi borjuis: ‘Kalian akan kehilangan segala pengaruh praktis kalian jika kalian selalu dan secara otomatis mengatakan tidak.’ Si tua itu, pada saat itu, sebagaimana biasanya, lebih cerdas daripada Pappenheimer.[1] Tentu, sebuah partai borjuis, yaitu partai yang mengatakan ya kepada keseluruhan tatanan yang ada, tetapi akan mengatakan tidak kepada dampak sehari-hari dari tatanan itu, adalah sebuah hibrida, ciptaan artifisial, yang bukan ikan, bukan daging, dan bukan pula unggas. Kita yang menentang keseluruhan tatanan yang ada, melihat hal ini secara sangat berbeda. Dalam kata tidak kita, dalam sikap kita yang keras, terletak seluruh kekuatan kita. Sikap inilah yang membuat kita ditakuti dan dihormati oleh musuh serta dipercaya dan didukung oleh rakyat.

Persis karena kita tidak bergeser sedikit pun dari posisi kita, kita memaksa pemerintah dan partai-partai borjuis untuk menyerahkan kepada kita beberapa keberhasilan langsung yang dapat diperoleh. Tetapi jika kita mulai mengejar apa yang ‘mungkin’ menurut prinsip-prinsip oportunisme, tidak peduli dengan prinsip-prinsip kita sendiri, dan dengan pertukaran ala politisi, maka kita akan segera mendapati diri kita berada dalam situasi yang sama dengan seorang pemburu yang bukan hanya gagal menghentikan rusa buruannya, tetapi juga kehilangan senjatanya dalam proses tersebut.

Kami tidak terusik oleh istilah asing, oportunisme dan seni dari yang mungkin, seperti anggapan Heine; kami hanya terusik ketika istilah-istilah itu ‘di-Jerman-kan’ ke dalam praktik partai kita. Biarkanlah mereka tetap menjadi kata-kata asing bagi kita. Dan, jika ada kesempatan, biarlah kawan-kawan kita menghindari peran sebagai penerjemah. 


Artikel ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari tulisan Rosa Luxemburg [1898], “Opportunism and the art of the possible,” <https://www.marxists.org/archive/luxemburg/1898/09/30.htm>, diakses Mei 2026.


[1] Merujuk pada pasukan kavaleri Jenderal Gottfried Heinrich Graf zu Pappenheim dalam Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648). Nama ini kemudian menjadi ungkapan idiomatik dalam bahasa Jerman setelah dipopulerkan oleh Friedrich Schiller melalui kalimat Daran erkenn’ ich meine Pappenheimer (Dari situlah aku mengenali orang-orangku) dalam drama Wallensteins Tod (1799). Pada akhir abad ke-19, istilah Pappenheimer kerap digunakan secara ironis untuk menyebut orang-orang yang watak atau pola pikirnya sudah dikenal. Dalam konteks ini, Rosa Luxemburg tampaknya menggunakannya sebagai sindiran terhadap kaum oportunis dalam SPD yang sedang ia kritik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top