Jakarta, 8 November 2025—Dua bulan setelah dinyatakan hilang dalam gelombang demonstrasi akhir Agustus 2025, dua nama—Reno Syahputra Dewo (24) dan Muhammad Farhan Hamid (23)—akhirnya ditemukan. Bukan dalam keadaan hidup, melainkan dalam bentuk kerangka di lantai dua Gedung Astra Credit Companies (ACC), Kwitang, Jakarta Pusat. Polisi menyebut mereka korban kebakaran. Namun bagi keluarga dan publik, penjelasan itu menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Kronologi: Hilang di Tengah Kerusuhan
Kerusuhan besar melanda sejumlah titik Jakarta pada 25–31 Agustus 2025, dipicu oleh aksi protes yang berujung bentrok dengan aparat. Pada 29 Agustus, Reno dan Farhan terakhir kali terlihat di kawasan Kwitang, salah satu pusat bentrokan. Setelah itu, keduanya menghilang.
Keluarga kemudian melapor ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Dari 44 orang yang sempat dinyatakan hilang pada periode itu, 40 berhasil ditemukan—hidup, ditahan, atau dipulangkan. Hanya Reno dan Farhan yang masih belum ditemukan.
Hampir dua bulan kemudian, pada 30 Oktober 2025, pengelola Gedung ACC yang rusak akibat kebakaran menemukan dua kerangka manusia di lantai dua saat hendak memeriksa kelayakan bangunan untuk renovasi. Penemuan itu segera dilaporkan ke polisi, dan kerangka dibawa ke RS Polri Kramat Jati. Pada 7 November, polisi mengumumkan hasil identifikasi: berdasarkan struktur gigi, DNA, dan barang di sekitar jenazah, kedua kerangka dipastikan milik Reno dan Farhan. Polisi menyimpulkan keduanya tewas karena terjebak kebakaran dan menghirup asap berlebihan.
Kesaksian Lapangan: Luka di Lutut, Dibawa ke Rumah Sakit
Namun, kesaksian lapangan berdasarkan investigasi Kompas menunjukkan sesuatu yang berbeda. Menurut Gatot–saksi–(bukan nama sebenarnya) menuturkan bahwa pada 29 Agustus malam, ia melihat sosok yang sangat mirip dengan Farhan datang ke posko medis di depan Kimia Farma, Kwitang. Kondisinya lemas, tak sepenuhnya sadar, dan mengalami luka parah di lutut kiri.
“Bengkaknya gede, segini Mas,” kata Gatot sambil memberi isyarat tangan. “Saya yang nolong, saya yang nyobek celananya biar lukanya bisa diobati.”
Dalam situasi kacau itu, Gatot mendengar seseorang menyarankan agar korban segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Dua pengojek daring kemudian membantu mengantar Farhan dalam posisi duduk di tengah motor. Setelah itu, tak ada kabar lagi tentang keberadaannya.
Kesaksian ini menimbulkan pertanyaan besar: Jika benar Farhan sudah dibawa ke rumah sakit malam itu, bagaimana mungkin dua bulan kemudian kerangkanya ditemukan di lantai dua Gedung ACC Kwitang—lokasi yang sudah hangus dan tertutup puing?
Versi Polisi: Terjebak, Pingsan, Lalu Terbakar
Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti, Kepala Biro Laboratorium Kedokteran dan Kesehatan Polri, menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan benda tumpul pada jenazah.
“Ada kemungkinan mereka menghirup asap secara berlebihan, pingsan, lalu terbakar,” ujarnya.
AKBP Putu Kholis Aryana, Wadirreskrimum Polda Metro Jaya, menambahkan bahwa gedung ACC memang menjadi titik penjarahan dan pembakaran saat kerusuhan. Ia menegaskan, Reno dan Farhan adalah korban, bukan pelaku.
Putu juga menjelaskan ihwal aktivitas media sosial Farhan yang masih hidup setelah ia hilang. Menurutnya, ponsel Farhan telah digadaikan sebelum aksi, dan penerima gadai sempat menggunakan akunnya. Dengan penjelasan itu, polisi menyatakan pencarian selesai:
“Kasus orang hilang atas nama Farhan dan Reno dinyatakan selesai,” kata Putu.
Kejanggalan dan Temuan Lapangan
Namun, bagi KontraS dan sejumlah lembaga negara seperti Kompolnas dan Komnas HAM, versi resmi Polri menyimpan banyak kejanggalan. Sejumlah poin yang menonjol juga diangkat oleh laporan lapangan Kompas dan jurnalis Pandu Wiyoga, yang menelusuri lokasi penemuan.
- Penemuan jenazah dua bulan setelah olah TKP selesai
Olah TKP di gedung ACC berlangsung 10–20 September 2025, dan garis polisi telah dilepas tak lama setelahnya. Pertanyaannya: mengapa dua jenazah baru ditemukan pada 30 Oktober, lebih dari sebulan kemudian, di gedung yang tidak terlalu besar?
“Sulit diterima bahwa dua jenazah bisa terlewat dalam olah TKP di gedung yang tidak besar,” kata Dimas Bagus Arya, Koordinator KontraS.
Apalagi, menurut saksi mata, gedung tidak roboh total—akses evakuasi dan pemeriksaan mestinya mudah dilakukan sejak awal. - Seluruh CCTV di sekitar lokasi rusak
Polisi menyatakan semua kamera pengawas “tidak berfungsi karena terbakar.” Bagi KontraS, hal ini janggal. Tidak adanya satu pun rekaman CCTV memperkuat kecurigaan bahwa keberadaan Reno dan Farhan di gedung itu mungkin terjadi setelah peristiwa utama, bukan saat kebakaran. - Dugaan jenazah diletakkan setelah garis polisi dicabut
Kecurigaan ini muncul dari selisih waktu antara pencabutan garis polisi dan penemuan jenazah. “Atau jangan-jangan jenazah korban baru dimasukkan di lokasi setelah garis polisi dilepas,” ujar Dimas. Ia menilai dugaan ini perlu diverifikasi melalui audit forensik lanjutan. - Tidak ada saksi langsung
Hingga kini, tidak ada satu pun saksi yang melihat Reno dan Farhan masuk ke gedung ACC. Polisi juga belum memiliki bukti digital yang menunjukkan keberadaan mereka di sana pada tanggal kejadian. - Kondisi tulang dan logika waktu kematian
Polri menyebut korban meninggal lebih dari satu bulan sebelum ditemukan. Namun kondisi kerangka masih dapat diidentifikasi jelas melalui DNA dan gigi. Dalam kasus kebakaran, suhu tinggi biasanya merusak struktur tulang. Hal ini membuat publik mempertanyakan apakah benar keduanya meninggal saat gedung terbakar, atau di waktu berbeda.
Dalam konteks ini, forensik modern sebenarnya memiliki kerangka kerja yang sangat spesifik untuk menganalisis kasus destruksi termal (mayat hangus terbakar)—dikenal sebagai triangulasi analisis yang mencakup:
- Analisis trauma skeletal, untuk membedakan apakah retak atau defek pada tulang semata akibat panas (thermal cracking, calcination) atau justru akibat trauma lain sebelum terbakar (sharp trauma, blunt trauma).
- Analisis fire pattern dan residu accelerant, yakni pola api dan sisa bahan bakar untuk menentukan apakah kebakaran berlangsung alami, spontan, atau ada indikasi bahan pemicu yang disengaja.
- Analisis konteks TKP dan sekuens taphonomy, yakni posisi tubuh, arah runtuhan, serta konteks lingkungan tempat jenazah ditemukan untuk membaca urutan peristiwa setelah kematian.
Karena jaringan lunak para korban sudah hangus, interpretasi tanda-tanda vital klasik—seperti jelaga di saluran napas atau warna merah ceri akibat kadar CO tinggi dalam darah—tidak bisa digunakan begitu saja. Maka itu, pemeriksaan lanjutan menjadi krusial:
- Analisis COHb (carboxyhemoglobin) pada sumsum tulang atau jaringan otot jantung untuk menentukan apakah korban terbakar dalam keadaan hidup atau sudah meninggal sebelumnya.
- Analisis jelaga atau soot pada sisa tulang rawan trakea dan paru, bila masih ada.
- Pemeriksaan morfologi fraktur termal untuk membedakan antara keretakan akibat panas atau akibat kekerasan.
Pernyataan polisi dalam konferensi pers bahwa “ada luka bakar organ dalam” menandakan masih ditemukannya sisa jaringan lunak. Jika demikian, publik berhak menuntut agar hasil otopsi lengkap dirilis—meliputi data COHb, temuan soot, dan analisis trauma skeletal—sebagai dasar transparansi. Tanpa publikasi hasil forensik yang jelas, narasi resmi “terjebak dan terbakar” akan tetap menggantung di tengah banyak kejanggalan di lapangan.
Respons Lembaga Negara
Kompolnas mendorong pembentukan Tim Pencari Fakta Independen (TPFI) untuk menelusuri ulang kronologi dan memastikan tidak ada yang ditutup-tutupi.
“Ini bukan sekadar soal identitas korban, tapi soal kebenaran publik. Jangan ada yang ditutup,” kata Mochammad Choirul Anam.
Sementara Komnas HAM memasukkan kasus ini ke dalam laporan tentang korban tewas dalam kerusuhan Agustus 2025.
“Total korban meninggal menjadi 11 orang. Kami akan menelusuri keterkaitannya dengan pola kekerasan negara,” ujar Saurlin P. Siagian.
Analisis: Pertanyaan yang Belum Terjawab
Kasus Reno dan Farhan memperlihatkan celah besar dalam transparansi penegakan hukum dan pengungkapan peristiwa publik. Setidaknya ada tiga pertanyaan mendasar yang masih belum terjawab:
- Mengapa dua jasad bisa luput dari olah TKP resmi selama sebulan penuh?
Jika olah TKP berjalan sesuai prosedur, mustahil dua tubuh manusia tak ditemukan di gedung berukuran sedang. - Mengapa seluruh bukti visual hilang bersamaan?
Semua CCTV di sekitar lokasi disebut rusak, sehingga publik tidak punya alat verifikasi independen atas klaim polisi. - Apakah penjelasan “terjebak dalam kebakaran” cukup menjelaskan semua kejanggalan?
Narasi itu terasa terlalu sederhana untuk menjawab kompleksitas kasus orang hilang dalam konteks politik dan sosial yang tegang.
Penutup: Kebenaran yang Tertinggal
Secara administratif, kasus Reno dan Farhan telah ditutup. Tetapi bagi keluarga dan masyarakat sipil, kebenaran belum ditemukan. Kapan tepatnya mereka meninggal, bagaimana bisa berada di gedung ACC, dan mengapa baru ditemukan dua bulan kemudian—semuanya masih menyisakan misteri.
Di tengah asap yang menutupi puing-puing Kwitang, kisah dua anak muda ini menjadi simbol tentang bagaimana kebenaran bisa terkubur bersama reruntuhan, dan bagaimana publik terus menuntut agar negara tidak mengubur keadilan dengan alasan kebakaran.
Berita ini disusun dari investigasi Kompas.
Penuis: Beni
