Jakarta, 2 Mei 2026— Ribuan massa yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Gedung DPR RI, Jumat (1/5). Aksi ini menjadi penegasan sikap politik buruh yang memilih turun ke jalan dibanding mengikuti perayaan “May Day Fiesta” di Monas bersama Prabowo.
Sejak pukul 10.00 WIB, massa aksi mulai berkumpul di sejumlah titik sekitar kompleks parlemen, seperti kawasan depan TVRI dan Flyover Taman Ria. Selain berasal dari wilayah Jabodetabek, massa juga datang dari berbagai daerah seperti Karawang, Subang, dan Bandung.
Aksi ini tidak hanya diikuti oleh buruh, tetapi juga melibatkan mahasiswa, petani, serta masyarakat umum yang ingin memperingati May Day sebagai momentum perjuangan kelas pekerja.
Audiensi dengan DPR: Buruh Tuntut Dilibatkan
Sebelum aksi massa dimulai, sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah perwakilan organisasi yang tergabung dalam Gebrak lebih dahulu melakukan audiensi dengan DPR RI.
Dalam pertemuan tersebut, mereka menyoroti minimnya partisipasi dan pelibatan serikat buruh dalam proses penyusunan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang saat ini tengah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas).
Selain itu, persoalan outsourcing, sistem pengupahan, hingga perlindungan terhadap hak-hak pekerja juga menjadi poin utama yang disampaikan kepada parlemen. Menurut mereka, revisi UU Ketenagakerjaan tidak boleh kembali mengulang pola penyusunan UU Cipta Kerja yang dinilai minim partisipasi buruh dan justru memperburuk kondisi kerja. Tidak ketinggalan juga tentang penyempitan ruang demokrasi.

Massa yang telah berkumpul di Flyover Taman Ria terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat sebelum memulai aksi utama. Setelah itu, ribuan buruh melakukan longmarch menuju depan Gedung DPR RI sambil meneriakkan slogan perjuangan dan menyampaikan orasi di sepanjang jalan. Jumlah massa yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari 10.000 orang. Setibanya di depan kompleks parlemen, aksi dilanjutkan dengan panggung orasi dari berbagai organisasi.
Pilih Jalan Perjuangan
Ketua Umum Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi), Sunar, menegaskan alasan Aliansi Gebrak memilih tidak bergabung dengan serikat pekerja lain yang merayakan May Day Fiesta di Monas.
“Kami dari Aliansi Gebrak memutuskan tidak bersama kawan-kawan serikat pekerja yang lain yang merayakan May Day Fiesta di Monas. Ini berkaitan dengan keresahan buruh di daerah dari berbagai sektor, karena situasi ketenagakerjaan yang sangat buruk,” ujarnya dalam orasi.
Sunar menekankan, pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168 terkait UU Cipta Kerja, pemerintah dan DPR harus segera membahas revisi UU Ketenagakerjaan dengan melibatkan unsur serikat buruh secara nyata.
“Kalau UU ini dibuat tanpa melibatkan buruh, maka hasilnya akan sama saja dengan UU sebelumnya, yang hanya akan mempertajam konflik antara serikat buruh, pemerintah, dan DPR,” katanya.
Upah Layak dan Penghapusan Outsourcing
Selain revisi regulasi, Gebrak juga menuntut reformasi sistem pengupahan nasional.
Menurut Sunar, setiap tahun buruh selalu harus turun ke jalan hanya untuk menuntut kenaikan upah, yang menunjukkan sistem pengupahan nasional belum berpihak pada pekerja.
“Harapan kami pemerintah dan DPR bisa meninjau kembali dan melakukan reformasi sistem pengupahan menuju upah layak nasional,” ujarnya.
Isu penghapusan outsourcing juga menjadi sorotan utama. Praktik kerja kontrak, harian lepas, dan borongan dinilai semakin meluas, sementara jumlah pekerja tetap terus berkurang.
“Pekerja tetap itu semakin sedikit, tetapi outsourcing, harian lepas, dan borongan semakin banyak. Ini yang kami soroti dan harapannya bisa dimasukkan dalam UU Ketenagakerjaan yang baru,” tambahnya.
Overwork hingga Dampak Konflik Iran
Selain persoalan normatif ketenagakerjaan, sejumlah orator juga menyoroti fenomena overwork yang membuat konsep ideal “8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi” hanya menjadi slogan indah di atas kertas.
Herman dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) menyebut banyak buruh terpaksa mencari pekerjaan tambahan karena upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Banyak buruh yang setelah pulang kerja masih harus mencari kerja tambahan, seperti menjadi ojek online, karena upah tidak mencukupi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak konflik geopolitik di Asia Barat, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada sektor energi global.
Menurut Herman, kenaikan harga bahan baku impor seperti energi, plastik, dan petrokimia kerap dijadikan alasan perusahaan untuk melakukan efisiensi yang berujung pada PHK atau penurunan kondisi kerja.
“Dalam situasi seperti ini, seharusnya pemerintah hadir untuk melindungi buruh, bukan membiarkan perusahaan menjadikan krisis sebagai alasan untuk menekan pekerja,” katanya.
Panggung Seni sebagai Ekspresi Perlawanan

Selain orasi politik, aksi May Day di DPR juga diisi dengan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk ekspresi perjuangan kelas pekerja.
Teatrikal, pembacaan puisi, hingga mini gigs digelar secara bergantian sepanjang aksi berlangsung. Sejumlah musisi turut hadir memeriahkan panggung solidaritas, di antaranya Efek Rumah Kaca, Black Horse, dan The Brandals.
Bagi massa aksi, May Day bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum konsolidasi politik untuk menegaskan kembali bahwa perjuangan buruh belum selesai.
Menjelang pukul 18.00 WIB, rangkaian aksi May Day 2026 di depan Gedung DPR RI resmi berakhir. Penutupan dilakukan melalui pembacaan pernyataan sikap bersama oleh organisasi-organisasi yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), sebagai penegasan atas tuntutan politik yang sejak siang disuarakan di hadapan parlemen.
Setelah itu, seluruh massa aksi secara bersama-sama menyanyikan lagu “Internasionale”, lagu perjuangan kaum buruh yang menjadi simbol solidaritas kelas pekerja lintas sektor dan lintas generasi.
Sambil lagu dinyanyikan, massa mulai perlahan membubarkan barisan dan bergerak menuju kendaraan serta angkutan masing-masing untuk kembali ke daerah asal mereka.
Penampilan terakhir dari The Brandals menjadi penanda penutup seluruh rangkaian aksi. Musik yang dimainkan di penghujung acara menandai berakhirnya peringatan May Day 2026 versi Gerakan Buruh Bersama Rakyat—sebuah perayaan yang tidak diisi pesta seremonial, melainkan konsolidasi politik dan penegasan bahwa perjuangan buruh masih terus berlangsung.
Penulis: Ijo
