JAKARTA — Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi mahasiswa kembali turun ke jalan pada Jumat, 12 Juni 2026. Massa aksi yang menamakan diri gerakan #MenujuIndonesiaBangkrut berencana menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Sejak sekitar pukul 13.00 WIB, mahasiswa dari sejumlah kampus seperti Universitas Indonesia (UI), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Universitas Gunadarma, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), serta Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai berdatangan. Selain organisasi kemahasiswaan kampus, aksi juga diikuti oleh sejumlah organisasi mahasiswa eksternal, seperti Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), dan Pembebasan.
Namun, rencana massa untuk bergerak menuju Bundaran HI mendapat penghadangan dari aparat kepolisian. Polda Metro Jaya sebelumnya telah menyiapkan ribuan personel gabungan untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
“Sebanyak 4.151 personel gabungan disiapkan dalam pengamanan aksi tersebut. Rinciannya, 3.651 personel Polri serta 500 personel TNI,” kata Kombes Pol. Budi Hermanto (Kabid Humas Polda Metro Jaya), Jumat, 12 Juni 2026.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah, yaitu:
- Menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);
- Menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM);
- Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih;
- Mengakhiri praktik militerisme di ranah sipil;
- Mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah dan berhenti menghindari kritik publik.
Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Ma’shum, mengatakan pemilihan Bundaran HI sebagai titik aksi dilakukan untuk menunjukkan sikap ketidakpercayaan mahasiswa terhadap pemerintah. Karena itu, massa tidak memilih melakukan aksi di sekitar Istana Negara maupun Gedung DPR.
Menurut Yatalathof, menyampaikan aspirasi di DPR tidak lagi dianggap efektif karena tidak diyakini mampu menghasilkan perubahan yang berarti. Ia mengatakan aparat sempat mengarahkan massa untuk memusatkan aksi di kompleks parlemen, namun usulan tersebut ditolak peserta demonstrasi.
Salah satu peserta aksi dari Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Ardan, menyatakan bahwa demonstrasi sengaja digelar di ruang publik yang ramai untuk menarik perhatian masyarakat luas terhadap kondisi yang mereka anggap sebagai krisis nasional.
“Tujuan aksi ini memang untuk mengganggu kenyamanan, bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat. Kami ingin mengingatkan publik bahwa ada situasi yang tidak beres dan krisis sedang berada di depan mata. Penyebabnya adalah kebijakan pemerintah,” kata Ardan dalam orasinya.
Ia menilai persoalan kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan berbagai tekanan ekonomi tidak boleh hanya menjadi perhatian mahasiswa. Menurutnya, aksi tersebut merupakan upaya mengajak masyarakat terlibat aktif menyuarakan persoalan yang mereka hadapi, alih-alih hanya mengeluh atas kondisi ekonomi yang memburuk.
Selain itu, Ardan juga menyinggung keterlibatan TNI dalam aksi kali ini. “Apa urusan TNI samapai harus turun tangan dalam aksi ini. Hal ini justru mengkonfirmasi apa yang menajdi salah satu tuntutan massa aksi, terkait keterlibatn militer hari ini diranah sipil.”

Meski tertahan di kawasan Sudirman dan tidak dapat mencapai titik aksi yang direncanakan, massa terus berdatangan hingga malam hari. Para peserta secara bergantian menyampaikan orasi dengan megaphone.
Sekitar pukul 19.00 WIB, massa aksi menggelar pembacaan pernyataan sikap bersama. Dalam kesempatan itu, mereka kembali menegaskan lima tuntutan yang menjadi dasar demonstrasi serta menyerukan keterlibatan masyarakat dalam mengawasi kebijakan pemerintah.
Penulis: Waidi
