Jakarta, Sabtu (18/4/2026)-Iran resmi membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, langkah yang langsung menekan harga minyak global sekaligus meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi dunia.
Keputusan tersebut diambil di tengah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan melalui platform X:
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya dibuka untuk sisa periode gencatan senjata, melalui rute yang telah dikoordinasikan sebagaimana diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran.”
Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah dunia tercatat turun tajam sekitar 10–11 persen. Minyak jenis Brent melemah ke kisaran USD 88 hingga USD 90,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke rentang USD 82,59 hingga USD 84,00 per barel—level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh meredanya “premi risiko geopolitik”.
Namun, tren global tersebut belum tercermin di dalam negeri. Pertamina justru menaikkan harga BBM nonsubsidi per hari ini. Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.400 per liter, Dexlite menjadi Rp 23.600 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp 23.900 per liter dari sebelumnya Rp 14.200. Sementara itu, Pertamax (RON 92) tetap berada di kisaran Rp 12.900 per liter di wilayah Jakarta, sedangkan Pertalite dan BioSolar tidak mengalami perubahan harga.
Kenaikan ini mencerminkan penyesuaian terhadap harga minyak pada periode sebelumnya, sehingga dampak penurunan harga global saat ini diperkirakan baru terasa dalam beberapa pekan ke depan.
Meski Selat Hormuz telah dibuka, ketidakpastian masih membayangi. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan:
“Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka.”
Ia juga menegaskan bahwa perlintasan di wilayah tersebut berada di bawah kendali Iran. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menambahkan:
“Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, tetapi ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kami tentu tahu bagaimana harus bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain.”
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair global. Karena itu, setiap dinamika di kawasan ini memiliki dampak langsung terhadap stabilitas harga energi dunia.
Secara keseluruhan, meskipun pembukaan Selat Hormuz menurunkan harga minyak global dalam jangka pendek, arah pasar ke depan tetap sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di kawasan Asia Barat.
Penulis: Rona Arunika
